Nama Nama Nabi dan Kaitannya dengan nama Mahmud

Colorful-Flowers-Vector-IllustrationPenghormatan terhadap nama nama Nabi Muhammad ini bahkan dimulai sejak masa hidup Nabi, sebab Qadhi ‘Iyad mengutip sebuah sajak oleh Hassan ibn Tsabit, penyair Nabi, yang dengan mudah dapat menjadi dasar bagi semua spekulasi yang muncul sesudahnya mengenai nama nama Nabi Muhammad.

Dalam baris baris ini, penyair Arab termasyhur itu menunjuk kepada hubungan antara nama nama Nabi  Muhammad dan salah satu nama nama Allah, yakni : Mahmud.

(Allah) mengambil untuknya, untuk menghormatinya, bagian dari Nama-N ya
Demikianlah Allah di atas Tahta dinamakan Mahmud, dan yang ini Muhammad

Muhammad adalah bentuk pasif-parsitip dari bentuk kedua kata kerja hamada, “memuji, menyanjung,” dan mengandung arti “(dia yang) patut dipuji, (orang yang) sering disanjung.”

Mahmud adalah bentuk pasif partisip dari bentuk pertama dari akar kata kerja yang sama, “(dia yang) dipuji, kepada siapa pujian ditujukan”.

Karena surah pertama dalam Al Quran dimulai dengan Alhamdu llllah, “Segala puji bagi Allah” maka Allah adalah “Yang patut dipuji,” yaitu Mahmud par excellence. Kaitan gramatikal yang sederhana antara atribut Ilahi dengan nama Nabi mendapat tekanan khusus dari para sufi, dan selanjut ya diuraikan dengan berbagai cara.

Penyair Urdu abad kesembilan belas, Tapisy, melangkah demikian jauh dengan menyatakan dalam hubungan ini bahwa :

Ketika Pena menuliskan nama Tuhan,
Ia (juga) menuliskan nama sang Utusan Tuhan (Muhammad)

Pernyataan ini juga dapat ditafsirkan dengan cara berbeda, sebab kaum Muslim selalu memikirkan tentang fakta bahwa nama Nabi disebutkan dalam pernyataan iman secara langsung setelah nama Allah, La ilaha illa Allah, Muhammadun rasul Allah. Penggabungan ini telah menjadi sarana pengingat bagi kaum Muslim akan kedudukan Nabi yang unik, dan bukan hanya para ahli teologi saja yang memikirkan tentang kaitan misterius ini beserta implikasi implikasinya, tetapi para penyair pun tak henti-hentinya menyinggung hal tersebut, seperti misalnya yang dilakukan oleh Naziri pada awal abad ketujuh belas di India:

Dalam syahadat Dia telah mengucapkan nama Mushthafa sering dengan namaNya sendlri
Dan dengan demikian telah mewujudkan cita cita terakhir Adam

Naziri mengambil gagasan ini sendiri beberapa halaman selanjutnya, dan menambahkan suatu rincian penting:

Allah telah membuat nama [ Muhammad ] dalam syahadat ber iringan dengan nama-Nya sendiri
Dan dengan menyebutkannya, telah memisahkan orang beriman dari orang Kristen

Baris-baris ini mengungkapkan kembalinya sang penyair kepada suatu pandangan yang lebih ortodoks setelah adanya toleransi keagamaan Akbar. Pengumpul hadis Nabi abad kesembilan, Al-Darlmi, menulis dalam prakata karyanya mengenai hadis, beberapa kata-kata yang diambil alih, enam abad kemudian, oleh ahli teologi Meslr, Jalaluddin Al Suyuthi, untuk menjelaskan misteri nama Muhammad:
Namanya adalah Muhammad dan Ahmad;

umatnya adalah umat terpujl (hamd)

dan semua gerak serta shalat umatnya dimulai dengan pujian (hamd).

Dalam Kitab Abadi di rumah Allah ditullskan bahwa para Khalifahnya dan para Sahabatnya, dalam menulis Kitab Suci, hendaknya memulainya dengan pujian (surah 1:1).

Dan di tangannya pada Hari Kebangkitan akan tergenggam panji panji pujian.

Dan ketika kemudian dia bersujud dl hadapan Allah untuk menjadi penengah yang membela kita, dan sujudnya diterima, maka dia memuji muji Allah dan ketika dia bangkit, seluruh manusia yang berkumpul akan memuji-mujinya, balk kaum Muslim maupun orang-orang yang tidak beriman, yang pertama dan yang terakhir, dan semua makna dan cara untuk mengucapkan puji-pujian syukur terkumpul dan dihaturkan kepadanya.

Dengan kata lain, nama Muhammad sendiri telah menunjukkan semua pujlan yang akan diterimanya dan akan diterima oleh para pengikutnya di dunia ini dan di akhirat nanti. Nama ini telah ada sejak awal masa dan akan selamanya digemakan kembali di surga.

Seperti diserukan oleh Al Sana’i:

Di atas Tahta lingkungan yang berputar, engkau lihat tempatnya telah tersedia; .
Di dasar Tahta Ilahi engkau melihat namanya. (Sana’i, Diwan, h. 363.)

Sebuah buku pegangan sufi menguraikan tema ini:

Dan dengan nama itu Adam menamainya, dan melaluinya menjadi penengah dan shalawat diucapkan kepadanya dalam perkawinanya dengan Siti Hawa.
Dan dengan nama itu ‘Isa akan menamainya di akhirat ketika dia menunjuknya untuk menjadi penengah; dan dengan nama itu jibril menyapanya dalam hadis mi‘raj. Dan dengan nama itu pula Ibrahim juga memanggilnya dalam hadis miraj. Dan Malaikat Pegunungan menyapanya dengan nama itu, dan dengan nama itu Malaikat Maut meratap ketika dia mencabut nyawanya, berseru: “Aduh! Muhammad, ah!”
Dan dengan nama itu dia memperkenalkan dirinya kepada Penjaga Surga, ketika dia meminta untuk dibukakan pintunya, dan pintu itu dibukakan untuknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s